Rabu, 24 Mei 2017

Apa kabar, Dita?
Udah lama ga update...


Komentar diatas buat saya percaya ga percaya.
bener ga sih? Ia gitu yang nulis orangnya langsung? ahh... bukan kali ya...
tapi kepo ah...
waktu saya klik kolom namanya . Jeng Jeng Jeng !!! ternyata dugaan saya benar dialah FISCUS WANNABE.blogger senior yang kala itu gak pernah saya lewatkan postingannya.
Kalau untuk sekarang-sekarang saya ga se-intens dulu buat mantengan blognya kakak senior yang sekiranya pernah meracuni saya untuk terus menulis. Dan sampai sekarang pun ternyata kak Muhamad Rahmat  masih tetap berkarya malah tampilan blognya kini sudah jauh lebih keren. Saya jadi takjub. klik disini

Ngomong-ngomong komentarnya sudah saya jawab di postingan sebelumnya ya ka..
kalau bisa bolehlah kasih tips supaya saya ga "tumpul" ide. hehehe

Sebelumnya makasih ka sudah bersedia komentar dan menyempatkan mampir di blog saya yang hampir usang ini. Terus menginspirasi :)





Share

Rabu, 13 April 2016

Kala Itu di Bulan Oktober

Aku selalu jatuh cinta pada pagi, terlebih hari ini. 


Ketika kabut masih menyelemuti permukaan bumi, ayam berkokok, burung bercuit cuit saling bersahutan walaupun terdengar samar. Menurutku suara itu adalah yang paling merdu dan selalu ku tunggu-tunggu dimanapun aku berada. Sang embun tak mau kalah bertugas. Mereka menerpa wajahku begitu lembutnya, memberi perlawanan pada rasa kantuk oleh karena aku harus berjaga ketika sang surya mulai menampakan dirinya. Jika embun bisa bicara, mungkin dia akan berkata, "Bersabarlah. sebentar lagi engkau akan melihat kesempurnaan karya Tuhan"

Ya Allah..
Komponen yang Engkau ciptakan begitu ajaib. Engkau meramunya dengan begitu sempurna dengan kadar yang begitu pas membuat decak kagum setiap pasang mata yang menyaksikannya.
Kini rona bahagia mulai membaluti wajahku yang sedikit beku karena terpaan kabut tebal dan angin yang cukup kencang. Beberapa detik kemudian yang ku tunggu akan tiba ialah Matahari. Tidak hanya aku, mereka pun menikmati setiap detiknya. Tak peduli seberapa besar tubuh melawan rasa dingin demi sebuah hasil akhir.
Berharap matahari muncul seperti telur kuning yang meluncur dalam sebuah wajan. Bulat sempurna.

Kala itu adalah perpaduan komponen lengkap yang berujung pada kenikmatan empat panca indra bagi siapapun yang melewatinya. Sungguh hebatnya!

Udara segar yang ku hirup memanjakan indra penciumanku;

Suara merdu burung dan ayam berirama di telingaku memberi melodi indah pada indra pendengaranku;

Embun yang lembut dan dinginnya kabut menerpa kulitku, memberi kesejukan pada indra perasaku; dan

Waktu ketika sang surya menampakan dirinya, senantiasa menyisir kabut yang seolah sedang menyembunyikan sebuah mahakarya Tuhan. Itu adalah hal yang paling indah yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Mataku dimanjakan oleh karya-Mu yang sempurna. 


Dan kini ku sisipkan sepenggal doa sebagai bentuk rasa kagum dan persembahan syukur ku pada Illahi Robbi.

"Ya Allah, aku bersyukur dengan apa yang ada dihadapanku. Begitu indah, begitu megah. Aku terlalu kecil untuk menjadi angkuh. Aku tak seberapa untuk menjadi kepala besar. Tidak ada keraguan bagi-Mu. sekali lagi terimakasih atas segala nikmat-Mu yang luar biasa ini"





Bromo, Oktober 2015 

Dita D Lestari 


Share

Kan Ku Jawab Tanda Tanyamu ..

Aku bukan orang yang bisa membaca bahasa tubuh orang yang sedang jatuh cinta juga tidak bisa menebak gerak gerik tubuh seseorang yang masih terus menunggu seseorang bertahun-tahun lamanya. Yang aku alami tidak ada perubahan apapun, semua berjalan ala kadarnya.

Jika bagimu mencintai secara diam- diam itu adalah tanda tanya, bagiku itu seni mencintai.
Aku tidak perlu tahu dia memiliki perasaan yang sama denganku.
Yang cukup aku tahu bahwa mencintai itu adalah anugrah. 
Oleh sebab hatiku menjadi damai ketika bayangnya bersemayam dalam pikiranku, mengayunkan imajinasi seolah aku dengannya berkelana dalam negeri dongeng 1001 malam ialah ketika aku adalah yasmin dan dirinya seorang aladin. Mengelilingi dunia dengan karpet terbang sambil bernyanyi "A whole New World; atau
Atau seperti kisah princess disney. Anggap saja aku seorang cinderella dan dirinya adalah pangeran, kami berdua berdansa semalaman ;atau 
Menjelma seperti snow white yang tertidur sampai akhirnya dia datang sebagai sosok pangeran yang akan memberi kecupan untuk membangunkanku dalam mimpi panjangku.
Apapun itu aku bahagia mencintainya, tak nyata sekalipun. 
Ya! Sesederhana itu.

Namun kembali lagi aku adalah aku, kamu adalah kamu. 
Aku tak pernah bisa memaksakan hasrat keingin tahuanmu tentang hal yang dinamakan RASA.

Ketika kamu mengutarakan semua itu, aku hanya bisa menjawab satu kata :Terimakasih.

Terimakasih telah menanamkan aku dalam pikiranmu, memberikanku ruang khusus dihatimu.
Hati ini tak bisa berdusta, rasa haru memuncah ketika mendengarkan semua pernyataan yang terlontar dari lisanmu. Membayangkan bagaimana bisa ada seseorang yang sekian lama memendam rasa padaku, karena yang aku tahu itu hanya terjadi dalam film drama romantis saja kalaupun ada dalam dunia nyata aku terlalu jauh dari kata pantas untuk mendapatkannya. 

Sepersepuluh abad telah menjadi Tanda Tanya Besar dalam pikiranmu tentang balasan perasaanku.
Menunggu waktu yang tepat untuk bicara berdua, menanyakan kembali hal sama "Apa ada perasaan itu?sedikit saja."
Ucapan itu yang terpatri dalam pikiranku bahkan sampai detik ini. Jika hati ini diibaratkan sebuah ruang dengan beberapa sekat mungkin aku akan menelusuri setiap ruangan, mencari ruang kosong yang tersisa untuk aku simpan dengan baik perasaanmu bila perlu akan aku rawat perasaan itu dengan baik, menyiraminya dengan rasa syukur dan kasih agar kelak tumbuh menjadi cinta yang indah. Namun, sekali lagi aku tidak menemukan ruang itu. Entah mengapa, aku pun tidak mengerti dengan hal itu. 

Satu hal dariku terimakasih atas setiamu yang pernah tidak aku perdulikan. 

Untuk kesekian kalinya maaf bila sudah membuatmu kecewa atau justru penjelasanku kali ini membuatmu lega? Ku harap demikian.

Sepenggal melodi puisi dari @melodidalampuisi yang mewakili perasaanmu 


.. Adalah ketika dia tidak memperdulikanmu, dan kamu masih menunggunya dengan setia





Untuk mu yang menanyakan kembali rasa itu. 




April, 2016
Dita D Lestari


Share